Perbedaan Teknologi SCR (Selective Catalytic Reduction) dan EGR (Exhaust gas recirculation) di Kendaraan Diesel

Kemajuan teknologi khususnya di sektor transportasi saat ini tumbuh dan berkembang sangat pesat. Tidak dipungkiri bahwa kemajuan ini juga mengakibatkan gas buang (emisi) yang mengandung polutan juga naik dan mempertinggi kadar pencemaran udara karena semakin banyaknya kendaraan bermotor.

 

Berbeda dengan kendaraan yang menggunakan bahan bakar bensin, kendaraan diesel memiliki emisi yang lebih tinggi. Emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan diesel dapat merusak alam sekitarnya secara langsung karena mengandung gas karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), karbon monoksida (CO), volatile hydrocarbon (VHC), dan partikel lain yang berdampak negatif bila melebihi ambang konsentrasi tertentu.

 

Teknologi EGR

Untuk mengurangi hal itu, terdapat sebuah teknologi yang dapat mengurangi jumlah kadar nitrogen oksida (NOx) dalam gas buang mesin diesel dengan memasukkan gas NOx kembali tanpa menyebabkan loss power secara signifikan. Teknologi ini disebut Exhaust Gas Recirculation (EGR). Pada mesin diesel, EGR bisa menyalurkan gas sisa pembakaran ke intake sampai 50%.

 

Karena hanya sekitar 50 persennya saja yang akan diolah kembali, seiring berjalannya waktu, katup EGR akan dipenuhi tumpukan kerak atau jelaga, sehingga akan menurunkan performa mesin. Oleh karena itu, pembersihan pada intake manifold perlu dilakukan secara rutin. Dan jika proporsinya tidak sesuai bisa menyebabkan gagal pembakaran.

 

Teknologi SCR

Alternatif lain dari teknologi EGR ini adalah teknologi SCR (Selective Catalytic Reduction). Teknologi SCR dapat mengurangi gas NOx hingga 90% sekaligus mengurangi gas karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC) hingga 50-90%. SCR akan menyuntikkan cairan AdBlue (katalis yang berasal dari urea) pada gas buang dari mesin dan menghasilkan nitrogen dan uap air yang tidak berbahaya. Tak heran jika PT. Daimler Commercial Vehicles Indonesia (DCVI) sudah cukup lama atau lebih dulu menyematkan sistem pembakaran SCR pada beberapa truk seperti Mercedes-Benz Actros, Arocs dan Axor Euro 4.

 

Berkat teknologi SCR, Salah satu interval perawatan Mercedes-Benz Axor telah ditingkatkan jadi 50.000 km untuk truk Euro 4 dengan sistem tambahan pada mesin yang menjaga oli mesin tetap bersih sepanjang waktu serta efisiensi bahan bakar yang tinggi dengan emisi yang lebih bersih.